Social Icons

Pages

Kamis, 17 Mei 2012

Keterkaitan sosial Emosional Anak dengan Aktivitas dan Kehidupannya


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Hubungan antara perkembangan sosial emosional pada anak usia dini cukup kuat dengan berbagai kegiatan yang terkait dalam kehidupannya. Secara umum positif – negatif perkembangan emosi – sosial anak akan mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas yang akan dilakukan oleh anak dalam kehidupannya. Reaksi dari emosi seorang anak membantu penyiapan proses kondisi tubuhnya ( fisik, mental, psikologis) untuk melakukan tindakan. Semakin kuat emosi memberikan tekanan, akan semakin kuat mengguncangkan keseimbangan tubuh menuju tindakan tertentu. Jika kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntutan emosi maka kegiatan yang dilakukan akan berpengaruh. Hasilnya kegiatan yang dilakukan menjadi lebih pendek, motivasinya rendah bahkan mungkin keinginan menarik diri dari aktivitas yang dilakukannya akan menjadi kuat. Akibatnya kemampuan mental anak tidak berfungsi secara baik untuk mengingat dan berkonsentrasi serta tidak mampu bekerja optimal sesuai tuntutan yang diharapkan. Jika kegiatan sesuai emosinya, maka anak akan senang melakukannya dan secara mental akan meningkatkan konsentrasi pada aktivitas mengingatnya, serta secara psikologis akan positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada kegiatan yang sedang dilakukannya. Hasilnya anak dapat beraktivitas dengan durasi lebih lama. Kemampuan mental anak akan berfungsi secara baik.

B.      Rumusan Masalah

1.     Bagaimana mengenali sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan anak?
2.     Bagaimana bentuk hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?
3.     Bagaimana hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?

C.      Tujuan Pembahasan

1.     Mengenali sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan anak?
2.     Mengetahui bentuk hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?
3.     Mengetahui hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?



















                                                                            

BAB II
PEMBAHASAN


A.      Mengenali Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan Anak

Emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang melekat pada diri anak-anak. Kondisi emosi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu : positif, misal gembira dan negatif, misal sedih. Konsep emosi cukup penting bila dikaitkan dengan fungsinya dalam hubungan interpersonal. Dalam hal ini, ekspresi emosi akan menjadi fasilitasi bagi seorang anak untuk dapat mengungkapkan perasaannya, perilakunya, serta keinginan-keinginannya.
Emosi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik pada usia prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena memiliki pengaruh terhadap perilaku anak. Woolfson, 2005:8 menyebutkan bahwa anak memiliki kebutuhan emosional, yaitu :
a)Dicintai, b)Dihargai, c) Merasa aman, c) Merasa kompeten, d)Mengoptimalkan kompetensi
Apabila kebutuhan emosi ini dapat dipenuhi akan meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola emosi, terutama yang bersifat negatif.Anak mengkomunikasikan emosi melalui verbal, gerakan dan bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini perlu kita cermati karena bersifat spontan dan seringkali dilakukan tanpa sadar. Dengan memahami bahasa tubuh inilah kita dapat memahami pikiran, ide, tingkah laku serta perasaan anak. Bahasa tubuh yang dapat diamati antara lain :
a)Ekspresi wajah, b)Napas, c)Ruang gerak, d)Pergerakan tangan dan lengan
Titik penting emosi mempengaruhi berbagai perasaan seseorang dalam kehidupannya, baik perasaan menyenangkan maupun tidak menyenangkan karena emosi dapat membawa seseorang pada suatu yang berlawanan. Titik – titik pertentangan tersebutlah yang pada akhirnya membawa anak pada suatu tindakan, baik dalam konteks sosialisasi maupun dalam kegiatan lainnya ( menjadi bermakna atau tidak bagi anak).
Efek negatif jika kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntutan emosi maka kegiatan yang dilakukan akan berpengaruh. Hasilnya kegiatan yang dilakukan menjadi lebih pendek, motivasinya rendah bahkan mungkin keinginan menarik diri dari aktivitas yang dilakukannya akan menjadi kuat. Akibatnya kemampuan mental anak tidak berfungsi secara baik untuk mengingat dan berkonsentrasi serta tidak mampu bekerja optimal sesuai tuntutan yang diharapkan. 
Efek positif jika kegiatan sesuai emosinya, maka anak akan senang melakukannya dan secara mental akan meningkatkan konsentrasi pada aktivitas mengingatnya, serta secara psikologis akan positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada kegiatan yang sedang dilakukannya. Hasilnya anak dapat beraktivitas dengan durasi lebih lama. Bagaimana seorang guru atau orang tua dapat mengenali dengan cepat dan akurat fenomena emosi seorang anak agar tidak berdampak buruk dalam kehidupannya? Seorang guru harus memiliki kemempuan mengenali fenomena emosi anak didiknya. Jika seorang guru menemukan anak didiknya yang selalu bersemangat ke sekolah, tiba – tiba menjadi tidak bersemangat, segera tanyakan pada anak kenapa tidak bersemangat, lihat proses belajarnya di kelas, lihat dan teliti hasil belajarnya. Kecepatan guru mengenali dan menemukan berbagai gejala emosi sebagai penyebab akan membantu anak untuk mengembalikan pada keadaan yang semestinya, tetapi jika sebalinya, akan menyebabkan hal yang fatal. Kemampuan anak mengendalikan emosi masih terbatas. Akhir dari pertentangan emosi biasanya anak akan memilih dan bergerak pada pemenuhan emosi yang dianggapnya paling dapat memenuhi emosinya saja ( Hurlock, 1997 ) dan tentu akibatnya menjadi fatal dan membawa kerusakan pada anak.
Cara yang paling umum untuk mengenali emosi anak adalah dengan mendekatkan diri pada anak dan aktivitasnya. Akan lebih baik  bila kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan anak. Namun demikian guru dan orang tua agar dapat mengenali fenomena emosi anak, perlu didukung oleh kemampuan khusus, diantaranya sebagai berikut :
a.   kemampuan mendekati anak dalam keadaan apapun
b. kemampuan mengamati mengobservasi berbagai karakter  emosi dan perilaku sosial anak, terutama yang diekspresikan melalui aktivitas , sikap dan tindakan – tindakannya.
c. kemampuan dan keterampilan dalam merekam, mencatat dan membuat prediksi – prediksi tentang perbuatan apa yang akan menyertainya. Penanganan seharusnya tidak ditunda.
d. untuk mendukung kemampuan diatas, sebaiknya guru atau orang tua bersifat objektif, bertindak sesuai kadar dan tingkatan ekspresi yang ditampilkan anak. Guru atau orang tua harus mampu menjaga perlakuan yang adil dan bijaksana terhadap semua anak sehingga tidak menimbulkan perilaku emosi dan sosial yang lebih kompleks pada anak – anak.

B.      Bentuk Hubungan Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan

Gambaran tentang pola atau bentuk hubungan dan pengaruh emosi terhadap kehidupan anak, khususnya anak prasekolah dapat digambarkan melalui ilustrasi berikut
Pertama, emosi yang melekat pada seorang anak dapat mewarnai pandangannya terhadap kehidupan dan pandangannya terhadap lingkungan dan dimensi – dimensinya. Cara – cara anak melihat perannya dalam kehidupan dan kedudukannya dalam kelompok sosial sangat dipengaruhi oleh emosi yang dimilikinya. Persepsi tentang rasa malu, takut, agresif, ingin tahu atau bahagia, dan sebagainya mengikuti pola tertentu sesuai dengan pola yang berkembang dalam kelompok sosial dan kehidupannya. Dengan demikian, kita dapat menemukan berbagai reaksi dan ekspresi yang beragam dari setiap anak bergantung lingkungan sebelumnya.
Kedua, emosi akan sangat mempengaruhi interaksi sosial seorang anak. Semua emosi baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, mendorong terjadinya interaksi sosial. Melalui emosi, anak belajar mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Bentuk – bentuk emosi akan menentukan bentuk – bentuk perilaku sosial seorang anak.
Ketiga, reaksi emosional apabila dilakukan berulang – ulang akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang memuaskan anak akan dilakukan berulang – ulang, dan pada suatu saat tertentu akan berkembang menjadi kebiasaan. Makna dari pola hubungan tersebut adalah jangan sampai ada suatu reaksi emosi yang negatif pada seorang anak yang terus berkembang tanpa ada yang mengontrol atau meluruskannya. Jika hal itu terjadi, dikemudian hari akan sulit mengembalikan anak pada keadaan yang normal atau sesuai dengan tuntutan orang dewasa. Membiarkan suatu reaksi emosi yang negatif mengiringi pertumbuhan anak akan berakibat menjadi suatu kebiasaan yang buruk sehingga sulit untuk mengubahnya karena sudah mengkarakter dan melekat kuat pada diri anak.
Secara lebih khusus , Syamsu Yusuf ( 2001 ) menyatakan bahwa perubahan emosi akan mengakibatkan beberapa perilaku tertentu, diantaranya sebagai berikut :
a. memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas dengan hasil yang telah dicapai
b. melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya putus asa
c. menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi bisa menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara
d. mengganggu dalam penyesuaian sosial. Apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
e. suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan memengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Bentuk – bentuk hubungan sosial emosional dengan fisik, mental dan psikologis :
- kemampuan sosial emosional anak ternyata sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental
- salah satu gambaran proses dan hasil penelitian tentang pengaruh perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat di peroleh berdasarkan penelitian yang dilakukan conan (syamsu yusuf)
- menurut penelitian conan menunjukkan bahwa perkembangan emosi dan perubahan yang nyata akan berpengaruh atau menyebabkan perubahan pada berbagai dimensi fisik.
- Pengaruh emosi terhadap perubahan fisik
Jenis emosi
Perubahan fisik
1. Tepesona
      Reaksi elektris pada kulit
2. Marah
      Peredaraan darah bertambah cepat
3. Terkejut
      Denyut jantung bertambah cepat
4. Kecewa
      Bernapas panjang
5. Sakit / marah
     Pupil mata membesar
6. Takut / tegang
      Air liur mengering
7. Takut
     Berdiri bulu roma . Tegang
8. Pencernaan terganggu otot – otot menegang
Pengaruh emosi pada fisik mental seseorang akan membawa pada melemahnya kemampuan mengingat. Hubungan dan pengaruh dan perkembangan sosial emosional terhadap perkembangan fisik, mental, individu khususnya anak. Secara tunggal maupun perilaku emosi yang menyatu dengan perkembangan sosial dan perkembangan lainnya

C.      Mengarahkan Hubungan Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan

Cara yang biasanya dilakukan seseorang untuk bereaksi sebagian besar bergantung pada faktor yang memberikan kepuasan padanya, pada perilaku yang dapat diterima secara sosial, dan pada perilaku yang tidak menimbulkan penolakan dari orang – orang yang berarti baginya. Dengan demikian, agar setiap anak memenuhi pernyataan di atas secara positif maka persiapan fisik, mental, dan psikologis untuk bertindak sesuai dengan cara yang memenuhi kriteria di atas. Pada tingkatan anak prasekolah hal ini menjadi sangat penting karena mereka berada pada periode yang masih tinggi fleksibelitasnya. Tugas orang tua dan guru adalah mengarahkan emosi anak ke pola hubungan yang bersifat positif, artinya yang dapat mengembangkan emosi anak ke arah keterampilan sosial untuk beraktivitas mengisi kehidupannya menjadi lebih sempurna dan diterima oleh lingkungan sosialnya. Lebih khusus lagi guru hendaknya bisa mengarahkan semua anak belajar tentang cara menyalurkan energi emosionalnya yang berlebihan agar mereka tidak menderita kerusakan fisik dan psikologis terlalu besar apabila sewaktu – waktu diperlukan pengendalian emosi. Tindakan guru atau orang tua  menyalurkan energi emosional anak secara tepat diantaranya sebagai berikut :
a. membantu menyibukkan diri anak dalam kegiatan sehari – hari, baik dengan bermain maupun bekerja
b. membantu menjalin hubungan emosional yang akrab, paling tidak dengan salah seorang anggota keluarga. Orang tua dapat membantu anak mengembangkan pandangan yang lebih matang terhadap masalah mereka
c membantu menemukan seorang teman yang bisa menjadi akrab untuk anak menceritakan kesulitan dan mengadu. Dapat juga membantu agar anak bersedia menceritakan masalahnya dengan seseorang yang dianggapnya bersikap simpatik.
d. membantu anak mengenali dirinya, termasuk pentingnya tertawa, humor, tersenyum juga termasuk memiliki rasa takut

Kunci utama cara membantu atau mengarahkan anak adalah dengan memberikan kasih sayang dengan benar. Jika tidak, maka akan timbul akibat – akibat sebagai berikut :
a.  terhadap perkembangan bahasa, yakni perkembangan bahasa terhambat, anak sering mangalami gangguan bicara, misalnya gagap
b.  terhadap kemampuan bergaul atau bersosialisasi, bereaksi secara negatif terhadap pendekatan orang lain , sukar di ajak kerja sama dan bersikap memusuhi. Mereka merasa tidak pandai dan memperlihatkan kekesalan dengan perilaku agresif, tidak patuh dan bentuk perilaku antisosial lainnya
c.  terhadap kepribadian, kelaparan kasih sayang, cenderung mengarahkan perhatian pada diri sendiri, menaruh perhatian kecil pada orang lain, mementingkan diri sendiri, dan suka menuntut.

Dampaknya bisa berjangka panjang dan berlangsung lama, dan cenderung menimbulkan malasuai (maladjustment) apabila disertai kondisi lain yang tidak menyenangkan , misalnya menjadi hidup tidak bahagia. Begitu pula jika terlalu berlebihan memberikan kasih sayang, akibatnya akan menghalangi penerimaan mereka sebagai teman , anak tidak menaruh minat pada orang lain dan sedikit saja menaruh kasih sayang kepada mereka. Hal ini, akan mendorong anak memusatkan kasih sayang secara mencolok pada satu atau dua orang saja. Akibatnya anak akan merasa cemas dan tidak tenteram apabila orang – orang itu tidak ada atau apabila perilaku mereka pada suatu saat mengesankan bahwa hubungan mereka terancam. Keadaan itu akan menimbulkan perasaan sunyi dan tersiksa karena kesal terhadap kegembiraan yang dialami teman sebayanya.

BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN

     Cara yang paling umum untuk mengenali emosi anak adalah dengan mendekatkan diri pada anak dan aktivitasnya. Akan lebih baik  bila kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan anak.
Gambaran tentang pola atau bentuk hubungan dan pengaruh emosi terhadap kehidupan anak. Pertama, emosi mewarnai pandangan anak terhadap dimensi kehidupan. Persepsi tentang rasa malu, takut, agresif, ingin tahu atau bahagia, dan sebagainya mengikuti pola tertentu sesuai dengan pola yang berkembang dalam kelompok sosial dan kehidupannya. Kedua, emosi mempengaruhi interaksi sosial. Melalui emosi anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Ketiga , reaksi emosional apabila diulang – ulang akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. Tugas orang tua dan guru adalah mengarahkan emosi anak ke pola hubungan yang bersifat positif, artinya yang dapat mengembangkan emosi anak ke arah keterampilan sosial untuk beraktivitas mengisi kehidupannya menjadi lebih sempurna dan diterima oleh lingkungan sosialnya.

 

B.      SARAN

Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan hubungan sosial emosional anak dengan aktivitas dan kehidupannya agar semakin memahami dan dapat memberi masukan pada makalah yang kami susun.

DARTAR PUSTAKA


Nugraha, A. & Rachmawati, Yeni.(2006).Metode Pengembangan Sosial
         Emosional. Jakarta: Uviversitas Terbuka.

       EMOSIONAL


       melekat-pada-anak/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Sample text

Sample Text